• Pages

      Sabtu, 14 April 2012

      KEBIASAAN MEMBACA PESERTA DIDIK DAPAT MENINGKATKAN KEMAMPUAN DALAM MENAMBAH PENGETAHUAN


      I.     PENDAHULUAN
      A.    Latar  Belakang Masalah
                  Kebiasaan membaca adalah suatu aktivitas yang rutin dilakukan dalam proses penalaran untuk mencapai pemahaman terhadap gagasan dan informasi yang di dapatkan melalui lambang-lambang yang ada baik tertulis maupun tidak. Aktivitas membaca tidak hanya membutuhkan mulut untuk mengeja dan mata untuk melihat, akan tetapi aktivitas membaca membutuhkan otak untuk memahami untuk melakukan aktivitas pemahaman. Yang mana otak dan aktivitas kognitifnya terletak jauh dan tersembunyi dari aktivitas mata dan indera lainya. Hal ini menunjukkan bahwa kebiasaan membaca merupakan aktivitas kognitif seseorang yang tidak dapat dilihat hanya dengan indera saja. Karena aktivitas kognitif tidak akan bisa tampak jika kita tidak mendalaminya.
                  Membaca merupakan kemampuan yang harus dimiliki oleh semua orang, terutama bagi siswa yang masih aktif duduk dibangku pendidikan. Karena dengan membaca dapat memberi pengetahuan yang yang belum pernah didapat sebelumnya. Kebiasaan membaca tidak dapat diukur melalui sering tidaknya mengunjungi perpustakaan atau ramai tidaknya perpustakaan. Akan tetapi, perpustakaan merupakan salah satu tempat dan fasilitas yang dapat membantu siswa untuk melakukan aktivitas kebiasaan membacanya.
                  Jika melihat fakta yang ada, meskipun perpustakaan ramai oleh siswa yang datang baik yang hanya sekedar untuk meminjam buku untuk referensi yang berkaitan dengan mata pelajaran siswa, atau bahkan yang datang ke perpustakaan hanya sekedar untuk mencari referensi untuk mengerjakan tugas mereka. Di dalam perpustakaan tersebut, banyak aktivitas membaca yang di lakukan oleh siswa, baik hanya membaca karena untuk mencari bahan-bahan untuk menyelesaikan tugas mereka sampai pada aktivitas siswa yang benar-benar membaca untuk menambah pengetahuan mereka.
                  Menurut Kolker (1983: 3) membaca merupakan suatu proses komunikasi antara pembaca dan penulis dengan bahasa tulis. Hakekat membaca ini menurutnya ada tiga hal, yakni afektif, kognitif, dan bahasa. Perilaku afektif mengacu pada perasaan, perilaku kognitif mengacu pada pikiran, dan perilaku bahasa mengacu pada bahasa anak.    Adapun Farris (1993: 304) mendefinisikan membaca sebagai pemrosesan kata-kata, konsep, informasi, dan gagasan-gagasan yang dikemukakan oleh pengarang yang berhubungan dengan pengetahuan dan pengalaman awal pembaca. Dengan demikian, pemahaman diperoleh bila pembaca mempunyai pengetahuan atau pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya dengan apa yang terdapat di dalam bacaan.
                  Dengan adanya beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa membaca pada hakekatnya adalah suatu proses yang dilakukan oleh pembaca untuk membangun makna dari suatu pesan yang disampaikan melalui tulisan. Dalam proses tersebut, pembaca mengintegrasikan antara informasi atau pesan dalam tulisan dengan pengetahuan atau pengalaman yang telah dimiliki.
      B.     Fokus penelitian
      Membaca merupakan kegiatan yang tidak bisa terlepas dari aktivitas siswa, baik di rumah maupun di sekolah. Hal tersebut dikarenakan pentingnya kegiatan tersebut yang mampu mepengaruhi pola pikir dan kemampuan siswa dalam memperoleh pengetahuan. Baik pengetahuan formal maupun informal, karena kualitas bacaan dipengaruhi oleh proses membaca dan produk yang dibaca. Hal ini sesuai dengan pendapat Burns, dkk. (1996: 6), menyatakan bahwa aktifitas membaca terdiri atas dua bagian, yaitu proses membaca dan produk membaca.

      Proses membaca juga mempengaruhi pemerolehan siswa dalam menambah pengetahuan. Dalam proses membaca ada sembilan aspek yang jika berpadu dan berinteraksi secara harmonis akan menghasilkan komunikasi yang baik antara pembaca dan penulis, sehingga dapat memudahkan siswa dalam menambah pengetahuannya. Komunikasi antara pembaca dan penulis itu berasal dari pengkonstruksian makna yang dituangkan dalam teks dengan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya. Lebih lanjut Burns, dkk. (1996:8) mengemukakan sembilan proses membaca tersebut yaitu: (1) mengamati simbol-simbol tulisan, (2) menginterprestasikan apa yang diamati, (3) mengikuti urutan yang bersifat linier baris kata-kata yang tertulis, (4) menghubungkan kata-kata (dan maknanya) dengan pengalaman dan pengetahuan yang telah dipunyai, (5) membuat referensi dan evaluasi materi yang dibaca, (6) mengingat apa yang dipelajari sebelumnya dan memasukkan gagasan-gagasan dan fakta-fakta baru, (7) membangun asosiasi, (8) menyikapi secara personal kegiatan/tugas membaca sesuai dengan interesnya, (9) mengumpulkan serta menata semua tanggapan indera untuk memahami materi yang dibaca.
      C.    Rumusan Masalah
      Setelah melihat latar belakang yang ada dan agar dalam penelitian ini tidak terjadi kerancuan, maka penulis dapat membatasi dan merumuskan permasalahan yang akan di angkat dalam penelitian ini. Adapun rumusan masalah yang diambil adalah sebagai berikut:
      1. Bagaimana kebiasaan membaca pada Peserta Didik?
      2. Faktor-faktor apa yang mempengaruhi kebiasaan membaca pada Peserta didik?
      3. Bagaimana dampak kebiasaan membaca pada Peserta Didik?


      D.    Tujuan Penelitian
      Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
      1. Untuk mengetahui kebiasaan membaca pada Peserta Didik
      2. Untuk mengetahui factor-faktor yang menjadi kebiasaan membaca Peserta Didik
      3. Untuk mengetahui dampak kabiasaan membaca Peserta Didik
      E.      Manfaat Penelitian
                  Penelitian ini diharapkan berhasil dengan baik dan dapat mencapai tujuan penelitian secara optimal, mampu menghasilkan laporan yang sistematis dan bermanfaat secara umum. Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:
      1.      Teoretis
                  Secara teoritis manfaat yang diperoleh diharapkan dapat menambah pengetahuan mengenai membaca, terutama dalam bidang kebiasaan membaca. Selain itu diharapkan mampu dijadikan sebagai pedoman atau acuan bagi peningkatan pembelajaran disekolah maupun di universitas, terutama dalam membaca.
      2.      Praktis
      Manfaat yang diperoleh secara praktis dapat memberikan masukan ataupun sumbangan kepada:
      a.    Peneliti
      1. Untuk mengetahui manfaat kebiasaan membaca dan pentingnya kebiasaan membaca bagi peneliti.
      2. Peneliti dapat termotivasi untuk membiasakan membaca. Terutama dalam mengaplikasikan kebiasaan membaca dalam kehidupan sehari-hari.
      3. Menambah pengalaman, wawasan, serta pengetahuan dalam bidang pendidikan, terutama dalam bidang pendidikan Bahasa Indonesia.
      b. Keilmuan
                  Diharapkan mampu memberikan sumbangan pikiran kususnya tentang pengembangan konsep kebiasaan membaca dan dapat memberikan kontribusi keilmuan bagi disiplin ilmu bahasa Indonesia, khususnya membaca dan seluruh disiplin keilmuan secara umum. Sehingga mampu menerapkan kebiasaan membaca dimanapun, dimulai dari sekolah, rumah, hingga dalam kehidupan sehari-harindalam masyarakat.



      II.       STUDI KEPUSTAKAAN
      A.     Pengertian Membaca
      Farris (1993: 304) mendefinisikan membaca sebagai pemrosesan kata-kata, konsep, informasi, dan gagasan-gagasan yang dikemukakan oleh pengarang yang berhubungan dengan pengetahuan dan pengalaman awal pembaca. Dengan demikian, pemahaman diperoleh bila pembaca mempunyai pengetahuan atau pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya dengan apa yang terdapat di dalam bacaan.
      Adapun secara bahasa membaca diartikan sebagi Iqra’ yang diterjemahkan denagn perintah “membaca”(dalam bahasa arab) semata-mata bukan hanya ditujukan kepada pribadi junjungan Nabi Muhammad SAW, tetapi juga untuk umat manusia sampai akhir zaman. Menurut Dr.Quraish Shihab dalam bukunya “Tafsir Al Amanah”, kata Iqra’ diambil dari kata kerja qaraa yang mempunyai arti beraneka ragam antara lain menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, mengetahui ciri-cirinya.
      Membaca adalah aktifitas yang kompleks dengan mengerahkan sejumlah besar tindakan yang terpisah-pisah. Meliputi: peserta didik  harus menggunakan pengertian dan khayalan, mengamati, dan mengingat-ingat. Peserta tidak dapat membaca tanpa menggerakkan mata atau tanpa menggunakan pikiran kita. Pada waktu anak belajar membaca, ia belajar mengenal kata demi kata, mengejanya, dan membedakannya dengan kata-kata lain. Anak harus membaca dengan bersuara, mengucapkan setiap kata secara penuh agar diketahui apakah benar atau salah ia membaca. Oleh karena itu, pada waktu membaca anak melakukan kebiasaan berikut :
      1. menggerakkan bibir untuk melafalkan kata yang dibaca.
      2. menggerakkan kepala dari kiri ke kanan.
      3. menggunakan jari atau benda lain untuk menunjuk kata demi kata.
      B. Pengertian Kebiasaan Membaca
      Salah satu unsur penting dalam Manajemen Diri adalah membangun kebiasaan untuk terus menerus belajar atau menjadi manusia pembelajar yang senantiasa  haus akan informasi dan pengetahuan.
      Hal ini seperti yang dikatakan oleh Henry Ford, pendiri General Motors yang mengatakan bahwa “Anyone who stops learning is old, whether at twenty  or eighty. Anyone who keeps learning stays young. The greatest thing in life is to Keep your mind young,” yang artinya Tidak peduli berapapun usia kita, jika kita berhenti belajar berarti  kita sudah tua, sedangkan jika senantiasa belajar kita akan tetap awet muda. Karena hal yang terbaik di dunia akan kita peroleh dengan memelihara pikiran kita agar tetap muda.
      Salah satu cara paling efektif untuk belajar adalah dengan membaca. Namun sayangnya sebagian besar orang tidak pernah punya waktu untuk membaca. Alasan utama yang sering disampaikan adalah kesibukan pekerjaan. Banyak orang maupun peserta didik terjebak dalam kemalasan, rutinitas, dan tekanan pekerjaan sehingga tidak memiliki kesempatan untuk mengasah kemampuan yang dimiliki, terutama dalam hal kebiasaan menmbaca.
      Dengan seringnya membaca diharapkan mampu mendapat ilmu yang lebih, sehingga mampu mengatasi masalah yang sewaktu-waktu muncul karena memiliki keyakinan dan pengalaman tersendiri. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Waples (1967) mengungkapkan bahwa tujuan membaca adalah :
      1)   Mendapat alat atau cara praktis mengatasi masalah;
      2)   Mendapat hasil yang berupa  prestise yaitu agar mendapat rasa lebih bila dibandingkan dengan orang lain dalam lingkungan pergaulannya;
      3)   Memperkuat nilai pribadi atau keyakinan;
      4)   Mengganti pengalaman estetika yang sudah usang;
      5)   Menghindarkan diri dari kesulitan, ketakutan, atau penyakit tertentu.
      III  PROSEDUR PENELITIAN
      A.    Metode Penelitian
           Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Penelitian kualitatif deskriptif yang sering digunakan tidak dikaitkan dengan tingkatan penelitian, tetapi dimaksudkan bahwa sifat penelitian kualitatif selalu menyajikan temuannya dalam bentuk deskriptif kalimat yang rinci, lengkap dan mendalam mengenai proses mengapa dan bagaimana sesuatu itu terjadi  (Sutopo, 2006: 139).
      Dalam penelitian kualitatif perlu dipahami bahwa tingkatan penelitian hanya dibedakan dalam penelitian studi kasus terpancang (embedded case study research) dan studi kasus tidak terpancang (grounded research/ penelitian penjelajahan). Pada penelitian yang sifatnya terpancang (embedded research), batasan tersebut menjadi semakin tegas dan jelas karena penelitian jenis ini sama sekali bukan penelitian grounded yang bersifat penjelajahan, tetapi sudah terarah pada batasan atau focus tertentu yang dijadikan sasaran dalam penelitian (Sutopo, 2006: 136-139).

      B.     Tempat Penelitian
           Tempat  penelitian adalah tempat di mana penelitian akan dilakukan, beserta jalan dan kotanya. Dalam penelitian ini peneliti mengambil lokasi Penelitian di SMP Negeri 1 Comal, Jalan Ahmad Yani, Pemalang, Jawa Tengah.
      C.    Instrumen penelitian
                  Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai pengumpul data dan sebagai instrument aktif dalam upaya mengumpulkan data-data di lapangan. Sedangkan instrument pengumpulan data yang lain selain manusia adalah berbagai bentuk alat-alat bantu dan berupa dokumen-dokumen lainnya yang dapat digunakan untuk menunjang keabsahan hasil penelitian, namun berfungsi sebagai instrument pendukung. Oleh karena itu, kehadiran peneliti secara langsung di lapangan sebagai tolak ukur keberhasilan untuk memahami kasus yang diteliti, sehingga keterlibatan peneliti secara langsung dan aktif dengan informasi atau sumber data lainnya sangat diperlukan.
      Dalam pengumpulan data pada penelitian tersebut menggunakan angket. Teknik tersebut akan digunakan dalam pembelajaran membaca pada beberapa kelas di SMP Negeri 1 Comal . Data yang diperoleh dilakukan dengan cara memberikan pertanyaan pada kelas.
      D.    Sumber Data
      1. Data
      Data dalam penelitian ini yaitu data kualitatif. Data kualitatif berupa kata-kata atau gambar bukan angka-angka (Aminuddin, 1990: 16). Berdasarkan pernyataan tersebut, data penelitian ini berupa kebiasaan membaca, Ratna (2004: 47) mengemukakan, sumber data adalah naskah. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kepustakaan yaitu berupa buku, transkrip, majalah, dan lain-lain. Hal ini sejalan dengan perincian sebagai berikut.
       1. Sumber Data Primer
      Sumber data primer merupakan sumber utama data (Siswantoro, 2004: 140). Sedangkan menurut Lofland bahwa sumber data utama dalam penelitian kualitatif  ialah kata-kata dan tindakan. Kata-kata dan tindakan merupakan sumber data yang diperoleh dari lapangan dengan mengamati atau mewawancarai. Peneliti menggunakan data ini untuk mendapatkan informasi lansung tentang kebiasaan membaca peserta didik kelas VIII SMP Negeri 1 Comal.

      2. Sumber Data Sekunder
      Sumber data sekunder merupakan sumber data kedua (Siswantoro, 2004: 140). Selain itu sumber data sekunder merupakan sumber data yang berhubungan dengan penelitian yang telah dilakukan. Data sekunder juga dapat berupa majalah, buletin, publikasi dari berbagai organisasi, lampiran-lampiran dari badan-badan resmi seperti kementrian-kementrian, hasil-hasil studi, tesis, hasil survey, studi histories, dan sebagainya. Data sekunder dalam penelitian ini yaitu data yang diperoleh dari internet yang berupa tulisan Tizar, Tarjo, dan Rachmad Widodo. Selain itu sumber data sekunder juga diperoleh melalui wawancara langsung dengan peserta didik kelas VIII SMP Negeri 1 Comal.

      E.     Teknik Pengumpulan Data
      Pengumpulan data merupakan langkah yang sangat penting dalam penelitian, karena itu seorang peneliti harus terampil dalam mengumpulkan data agar mendapatkan data yang valid. Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan.
      1. Observasi Langsung
      Observasi langsung adalah cara pengambilan data dengan menggunakan mata tanpa ada pertolongan alat standar lain untuk keperluan tersebut. Dalam kegiatan sehari-hari, kita selalu menggunakan mata untuk mengamati sesuatu. Observasi ini digunakan untuk penelitian yang telah direncanakan secara sistematik tentang bagimana peroses dan kebiasaan membaca pada peserta didik  kelas VIII SMP Negeri 1 Comal.
      Tujuan menggunakan metode ini untuk mencatat hal-hal, perilaku, perkembangan, dan sebagainya tentang perilaku kebiasaan membaca pada peserta didik  kelas VIII SMP Negeri 1 Comal.

      2. Wawancara
      Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab, sambil bertatap muka antara si penanya dengan si penjawab dengan menggunakan alat yang dinamakan interview guide (panduan wawancara).
      Tujuan penulis menggunakan metode ini, untuk memperoleh data secara jelas dan kongkret tentang perilaku kebiasaan membaca pada peserta didik  kelas VIII SMP Negeri 1 Comal.

      3.  Dokumentasi
      Dokumentasi adalah setiap bahan tertulis baik berupa karangan, memo, pengumuman, instruksi, majalah, buletin, pernyataan, aturan suatu lembaga masyarakat, dan berita yang disiarkan kepada media massa. Dari uraian di atas maka metode dokumentasi adalah pengumpulan data dengan meneliti catatan-catatan penting yang sangat erat hubungannya dengan obyek penelitian.
      Tujuan digunakan metode ini untuk memperoleh data secara jelas dan konkret tentang perilaku kebiasaan membaca pada peserta didik  kelas VIII SMP Negeri 1 Comal.

      F.     Teknik Analisis Data
      Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data kedalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data. Data yang terkumpul banyak sekali dan terdiri dari catatan lapangan, komentar peneliti, gambar, foto, dokumen berupa laporan, biografi, artikel, dan sebagainya.
      Setelah data dari lapangan terkumpul dengan menggunakan metode pengumpulan data di atas, maka peneliti akan mengolah dan menganalisis data tersebut dengan menggunakan analisis secara deskriptif-kualitatif, tanpa menggunakan teknik kuantitatif. Analisis deskriptif-kualitatif merupakan suatu tehnik yang menggambarkan dan menginterpretasikan arti data-data yang telah terkumpul dengan memberikan perhatian dan merekam sebanyak mungkin aspek situasi yang diteliti pada saat itu, sehingga memperoleh gambaran secara umum dan menyeluruh tentang keadaan sebenarnya.
      G.    Pengujian Keabsahan Data
      Menurut Moleong ’’kriteria keabsahan data ada empat macam yaitu : (1) kepercayaan (kreadibility), (2) keteralihan (tranferability), (3) kebergantungan (dependibility), (4) kepastian (konfermability)9. Dalam penelitian kualitatif ini memakai 3 macam antara lain :

      1. Kepercayaan (kreadibility)
      Kreadibilitas data dimaksudkan untuk membuktikan data yang berhasil dikumpulkan sesuai dengan sebenarnya. ada beberapa teknik untuk mencapai kreadibilitas ialah teknik : teknik triangulasi, sumber, pengecekan anggota, perpanjangan kehadiran peneliti dilapangan, diskusi teman sejawat, dan pengecekan kecakupan refrensi.

      2. Kebergantungan (depandibility)
      Kriteria ini digunakan untuk menjaga kehati-hatian akan terjadinya kemungkinan kesalahan dalam mengumpulkan dan menginterprestasikan data sehingga data dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kesalahan sering dilakukan oleh manusia itu sendiri terutama peneliti karena keterbatasan pengalaman, waktu, pengetahuan. Cara untuk menetapkan bahwa proses penelitian dapat dipertanggungjawabkan melalui audit dipendability oleh ouditor independent oleh dosen pembimbing.

      3. Kepastian (konfermability)
      Kriteria ini digunakan untuk menilai hasil penelitian yang dilakukan dengan cara mengecek data dan informasi serta interpretasi hasil penelitian yang didukung oleh materi yang ada pada pelacakan audit

      0 komentar:

      Poskan Komentar

      Subscribe To RSS

      Sign up to receive latest news